Sabtu, 16 Februari 2013

cerpen religi

Diposting oleh Kenditakendi.blogspot.com di 21.35


KETABAHAN HATI ZAHRA
Matahari belum menampakan sinarnya tapi pak Saman sudah berkeliling kompleks Kusuma Bangsa untuk mengangkut sampah warga yang nantinya akan ditampung di TPA kompleks tersebut. Ya, pak Saman adalah seorang tukang sampah sudah 5 tahun beliau bekerja sebagai tukang sampah di kompleks perumahan tersebut. Pak Saman adalah ayah dari Zahra seorang anak yang cerdas di sekolahnya parasnya pun cantik dia memiliki sahabat bernama Vika, orang tua Vika adalah orang yang berada tapi orang tua Vika menasihati agar tidak memilih-milih teman. Zahra tidak pernah malu dengan pekerjaan ayahnya karena upahnya digunakan untuk membayar sekolahnya walaupun masih dibantu ibunay berjualan di pasar apalagi sekarang adalah bulan suci Rhamadan. Vahda adalah teman sekelas Zahra dan Vika dia juga orang berada tapi sombong dan selalu menghina Zahra walau begitu Zahra tetap sabar menghadapinya.
Pagi ini diawali Zahra dengan kegiatan di dapur bersama ibunya. Mereka sedang mempersiapkan makan sahur. Kali ini Zahra dan ibunya memasak tempe goreng, sambal tomat, dan sayur asem wuah menu yang sederhana tapi bikin perut lapar. Walaupun sekarang di berbagai kota tempe dan tahu mulai langka karena harga kacang kedelai yang mahal, tapi di daerah tempat Zahra tinggal masih banya penjual tempe dan tahu alhamdulilah. Setelah makan sahur Zahra pun sholat subuh bersama.
Jarum jam masih menunjukan pukul 07:00 pagi tapi Vika sudah menjemput Zahra untuk tadarus di masjid belakang kompleks. Hari ini mereka libur sekoalh karena masih awal puasa, tapi walaupun libur jadwal Zahra sangat padat yang dimulai pagi ini tadarus al-quran, siangnya belajar bersama Vika untuk persiapan lomba yang akan mereka ikuti, lalu sorenya tadarus lagi. Tapi Zahra sangat senang karena liburannya ia tidak menganggur. “ Zahra nanti sore setelah tadarus aku ajak ke pasar ya beli makanan buka puasa “ kata Vika saat sedang istirahat ngaji “ iya aku juga mau bantu ibuku “ jawab Zahra dengan sepenuh hati.
3 hari pun berlalu sekarang saatnya kembali ke sekolah. Zahra berjalan riang menuju ruang kelasnya yaitu jengjeng.... IX D, “ hai Zahra “ sapa salah satu temannya, Zahra melabaikan tangan seraya berkata “ hai juga “. Di sekolah Zahra terkenal sangat baik bahkan adik kelas Zahra selalu berkata “ alim banget ya kak Zahra itu, udah cantik alim lagi “ kata-kata itu yang membuat kuping Vahda panas dia iri pada Zahra. Tiba-tiba Vahda mendekati bangku Zahra dengan senyum sinisnya “ udah datang ra ?” sapa Vahda dengan nada sedikit merendahkan, Zahra hanya tersenyum dan mengangguk. Vahda pun berlalu dari Zahra dengan tanag dilipat di dada. “ Vahda, Ara, Kikan kalian kalau tidak bisa diam keluar “ bentak pak Mahmud grur fisika, sebenarnya beliau tidak galak tapi kalau muridnya sudah keterlaluan ya begitulah jadinya. Mereka bertiga hanya tertunduk “ sekarang kalian kerjakan soal di papan tulis itu sekarang “ perintah pak Mahmud. Setenagh jam berlalu tapi Vahda belum bisa mengerjakannya sedangkan kedua temannya sudah selesai “ tidak bisa ya ... Vahda hanya mengangguk sedih “ berarti kamu harus memperhatikan pelajaran saya, Ara dan Kikan tolong kalian bimbing Vahda bapak tunggu hasilnya besok “ perintah Pak Mahmud sekali lagi “ tiru Zahra, Vika, dan kedua temanmu itu , sudah kamu duduk sana “
Bel istirahat berbunyi Zahra dan Vika yang sedang duduk-duduk di bangku taman pun kaget dengan kedatangan Vahda “ he miskin, jangan belagu kamu baru dipuji pak Mahmud gitu aja hidungnya udah melayang “ ejek Vahda tumben ya Ara dan kikan tidak ikut sepertinya mereka sudah tidak akrab lagi “ kok kamu gitu salahku apa ?” tanya Zahra “ salahnya, kenapa ada orang miskin di sekolah ini hahahaha “ kata Vahda lalu berlalu dari Zahra, Vika pun menenangkan Zahra.
Hari demi hari berlalu cacian dan ejekan Vahda semakin membuat marah saja, tapi ya Zahra selalu tabah dia tidak pernah mengadu pada ayah dan ibunya. Hari ini Zahra mengikuti lomba dan hasilnya ia menang bersama Vika satu timnya itu semakin buat Vahda marah besar. Suatau hari seperti biasa ayah Zahra berkeliling kompleks pagi-pagi. Saat tiba di perempatan jalan ada kecelakan dan beliau langsung menolong orang tersebut dan segera membawa ke rumah sakit, Zahra dan Vika dihubungi oleh ayahnya dan ayah Zahra pun mengabari keluarganya. Tiba-tiba Vahda datang dan menghambur ke papanya “pa, papa tidak apa-apa ?” tanya Vahda cemas mama dan adiknya pun sudah datang duluan, papanya tersenyum “ tidak apa-apa, nak ......oh ya yang menolong papa ini ayah temanmu kan ? Vahda mengangguk “ sayang, dia kakak sepupu kamu “ jelas mama Vahda. Vahda kaget bukan kepalang karena selama ini dia selalu menghina Zahra “ apa nggak mungkin ma ?” kata Vahda dengan mata berkaca-kaca “ iya saya sepupu kamu, ayah dan ibuku adalah pakdhe dan budhe kamu Vahda “ kata Zahra dengan senyum manisnya ‘ ta..tapi selama ini aku telah menghinanya ma pa .... Vahda menunduk sedih “ Zahra, pakdhe, budhe, dan Vika  saya minta maaf selama ini selalu menhina kalian “ lanjut Vahda denga lirih “ tidak apa-apa nak kami memaafkanmu bukan begitu pak, ra, vik “ kata budhe, Zahrah tersenyum “ iya kami memaafkanmu iya kan vik “ “ he’em “ kata Vika dengan senyumnya yang imut. Mereka pun berpelukan disaksikan mama papa Vahda dan ayah ibu Zahra. Dulunya pak Saman adalah orang yang berada dan memiliki perusahaan tapi menegernya korupis dan ia difitnah setelah menyerahkan bukti-bukti bahwa pak Saman tidak korupsi beliau langsung melarikan diri selama 5 tahun ini. Lalu papa Vahda memberikan tabungan hasil jerih payah pak Saman selama meniti karir di bidang bisnis itu ke pak Saman “ ku kira sudah diambil juga sama menegerku “ canda pak Saman semua pun tertawa gembira. Kini kehidupan pak Saman dan keluarganya telah pulih seperti dulu bersama keluarga yang harmonis dan Zahra dikelilingi sahabat-sahabt sejatinya Vika, Vahda, Ara dan Kikan ternyata selama ini Ara dan Kikan pergi ke luar kota sehingga tampak jauh dari Vahda terkesan bermusuhan dan tenyata mereka kembar loh. Kebahagiaan ini adalah hasil dari ketabahn dan kesabaran keluarga Zahra .
“Semoga cerita ini menginspirasi teman-teman agar tidak menghina teman seenaknya sendiri, tidak melihat teman dari segi fisik dan materi semua orang di dunia ini sama baik kaya maupun miskin toh nyatanya semua sama dan selalu tabah dan sabar menghadapi cobaan seperti Zahra J. Aminnn ya rabbal alamin  
SEKIAN


0 komentar:

Posting Komentar

 

KENDITA AGUSTIN BLOG Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea