KETABAHAN
HATI ZAHRA
Matahari
belum menampakan sinarnya tapi pak Saman sudah berkeliling kompleks Kusuma
Bangsa untuk mengangkut sampah warga yang nantinya akan ditampung di TPA
kompleks tersebut. Ya, pak Saman adalah seorang tukang sampah sudah 5 tahun
beliau bekerja sebagai tukang sampah di kompleks perumahan tersebut. Pak Saman
adalah ayah dari Zahra seorang anak yang cerdas di sekolahnya parasnya pun cantik
dia memiliki sahabat bernama Vika, orang tua Vika adalah orang yang berada tapi
orang tua Vika menasihati agar tidak memilih-milih teman. Zahra tidak pernah
malu dengan pekerjaan ayahnya karena upahnya digunakan untuk membayar sekolahnya
walaupun masih dibantu ibunay berjualan di pasar apalagi sekarang adalah bulan
suci Rhamadan. Vahda adalah teman sekelas Zahra dan Vika dia juga orang berada
tapi sombong dan selalu menghina Zahra walau begitu Zahra tetap sabar
menghadapinya.
Pagi
ini diawali Zahra dengan kegiatan di dapur bersama ibunya. Mereka sedang
mempersiapkan makan sahur. Kali ini Zahra dan ibunya memasak tempe goreng,
sambal tomat, dan sayur asem wuah menu yang sederhana tapi bikin perut lapar.
Walaupun sekarang di berbagai kota tempe dan tahu mulai langka karena harga
kacang kedelai yang mahal, tapi di daerah tempat Zahra tinggal masih banya
penjual tempe dan tahu alhamdulilah. Setelah makan sahur Zahra pun sholat subuh
bersama.
Jarum
jam masih menunjukan pukul 07:00 pagi tapi Vika sudah menjemput Zahra untuk
tadarus di masjid belakang kompleks. Hari ini mereka libur sekoalh karena masih
awal puasa, tapi walaupun libur jadwal Zahra sangat padat yang dimulai pagi ini
tadarus al-quran, siangnya belajar bersama Vika untuk persiapan lomba yang akan
mereka ikuti, lalu sorenya tadarus lagi. Tapi Zahra sangat senang karena
liburannya ia tidak menganggur. “ Zahra nanti sore setelah tadarus aku ajak ke
pasar ya beli makanan buka puasa “ kata Vika saat sedang istirahat ngaji “ iya
aku juga mau bantu ibuku “ jawab Zahra dengan sepenuh hati.
3
hari pun berlalu sekarang saatnya kembali ke sekolah. Zahra berjalan riang
menuju ruang kelasnya yaitu jengjeng.... IX D, “ hai Zahra “ sapa salah satu
temannya, Zahra melabaikan tangan seraya berkata “ hai juga “. Di sekolah Zahra
terkenal sangat baik bahkan adik kelas Zahra selalu berkata “ alim banget ya
kak Zahra itu, udah cantik alim lagi “ kata-kata itu yang membuat kuping Vahda
panas dia iri pada Zahra. Tiba-tiba Vahda mendekati bangku Zahra dengan senyum
sinisnya “ udah datang ra ?” sapa Vahda dengan nada sedikit merendahkan, Zahra
hanya tersenyum dan mengangguk. Vahda pun berlalu dari Zahra dengan tanag
dilipat di dada. “ Vahda, Ara, Kikan kalian kalau tidak bisa diam keluar “
bentak pak Mahmud grur fisika, sebenarnya beliau tidak galak tapi kalau
muridnya sudah keterlaluan ya begitulah jadinya. Mereka bertiga hanya tertunduk
“ sekarang kalian kerjakan soal di papan tulis itu sekarang “ perintah pak
Mahmud. Setenagh jam berlalu tapi Vahda belum bisa mengerjakannya sedangkan
kedua temannya sudah selesai “ tidak bisa ya ... Vahda hanya mengangguk sedih “
berarti kamu harus memperhatikan pelajaran saya, Ara dan Kikan tolong kalian
bimbing Vahda bapak tunggu hasilnya besok “ perintah Pak Mahmud sekali lagi “
tiru Zahra, Vika, dan kedua temanmu itu , sudah kamu duduk sana “
Bel
istirahat berbunyi Zahra dan Vika yang sedang duduk-duduk di bangku taman pun
kaget dengan kedatangan Vahda “ he miskin, jangan belagu kamu baru dipuji pak
Mahmud gitu aja hidungnya udah melayang “ ejek Vahda tumben ya Ara dan kikan
tidak ikut sepertinya mereka sudah tidak akrab lagi “ kok kamu gitu salahku apa
?” tanya Zahra “ salahnya, kenapa ada orang miskin di sekolah ini hahahaha “
kata Vahda lalu berlalu dari Zahra, Vika pun menenangkan Zahra.
Hari
demi hari berlalu cacian dan ejekan Vahda semakin membuat marah saja, tapi ya
Zahra selalu tabah dia tidak pernah mengadu pada ayah dan ibunya. Hari ini
Zahra mengikuti lomba dan hasilnya ia menang bersama Vika satu timnya itu
semakin buat Vahda marah besar. Suatau hari seperti biasa ayah Zahra
berkeliling kompleks pagi-pagi. Saat tiba di perempatan jalan ada kecelakan dan
beliau langsung menolong orang tersebut dan segera membawa ke rumah sakit,
Zahra dan Vika dihubungi oleh ayahnya dan ayah Zahra pun mengabari keluarganya.
Tiba-tiba Vahda datang dan menghambur ke papanya “pa, papa tidak apa-apa ?” tanya
Vahda cemas mama dan adiknya pun sudah datang duluan, papanya tersenyum “ tidak
apa-apa, nak ......oh ya yang menolong papa ini ayah temanmu kan ? Vahda
mengangguk “ sayang, dia kakak sepupu kamu “ jelas mama Vahda. Vahda kaget
bukan kepalang karena selama ini dia selalu menghina Zahra “ apa nggak mungkin
ma ?” kata Vahda dengan mata berkaca-kaca “ iya saya sepupu kamu, ayah dan
ibuku adalah pakdhe dan budhe kamu Vahda “ kata Zahra dengan senyum manisnya ‘
ta..tapi selama ini aku telah menghinanya ma pa .... Vahda menunduk sedih “
Zahra, pakdhe, budhe, dan Vika saya
minta maaf selama ini selalu menhina kalian “ lanjut Vahda denga lirih “ tidak
apa-apa nak kami memaafkanmu bukan begitu pak, ra, vik “ kata budhe, Zahrah
tersenyum “ iya kami memaafkanmu iya kan vik “ “ he’em “ kata Vika dengan
senyumnya yang imut. Mereka pun berpelukan disaksikan mama papa Vahda dan ayah
ibu Zahra. Dulunya pak Saman adalah orang yang berada dan memiliki perusahaan
tapi menegernya korupis dan ia difitnah setelah menyerahkan bukti-bukti bahwa
pak Saman tidak korupsi beliau langsung melarikan diri selama 5 tahun ini. Lalu
papa Vahda memberikan tabungan hasil jerih payah pak Saman selama meniti karir
di bidang bisnis itu ke pak Saman “ ku kira sudah diambil juga sama menegerku “
canda pak Saman semua pun tertawa gembira. Kini kehidupan pak Saman dan
keluarganya telah pulih seperti dulu bersama keluarga yang harmonis dan Zahra
dikelilingi sahabat-sahabt sejatinya Vika, Vahda, Ara dan Kikan ternyata selama
ini Ara dan Kikan pergi ke luar kota sehingga tampak jauh dari Vahda terkesan
bermusuhan dan tenyata mereka kembar loh. Kebahagiaan ini adalah hasil dari
ketabahn dan kesabaran keluarga Zahra .
“Semoga cerita ini menginspirasi
teman-teman agar tidak menghina teman seenaknya sendiri, tidak melihat teman
dari segi fisik dan materi semua orang di dunia ini sama baik kaya maupun
miskin toh nyatanya semua sama dan selalu tabah dan sabar menghadapi cobaan
seperti Zahra J.
Aminnn ya rabbal alamin “
SEKIAN
0 komentar:
Posting Komentar